Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juni 2011

Belajar: Masalah Paradigma

Banyak muncul pertanyaan, ketika tokoh tokoh atau orang orang yang jebolan dari pesantren, yang kemudian menjelma menjadi seorang teroris yg ditakuti hampir oleh seluruh orang di dunia. Apakah di pesantren tidak di ajarkan kedamaian sehngga mereka membuat kerusakan. Apakah di pesantren diajarkan keradikalan agama dan menolak Islam yang moderat.

Islam yang radikal sering diartikan sbgai islam yg keras, yg tak dikenalkan, diajarkan toleransi, sehngga jgankan orang diluar Islam, orang yg Islam sja pasti ia musuhi, kalau ajarannya tak sesuai dgn apa yg mereka anut.

Islam yg modrat acapkali disebt Islam yg toleran. Yg menjunjung tinggi pluralisme dan liberalisme.

Kedua konsep ini memang bertolak belakang, mana yg benar, kta bsa kemblikan kpad Al Quran dan Sunnah.

Lalu apakah ada organisasi atau pesantren yg sengaja mengant kedua paham tersebt, yaitu radikalisme dan liberalisme. Tentu ada? Tak tak semuanya. Krna kita mau menjadi radikat atau plural tergantng pemahaman dasar kita tentang tauhid.

Mengapa Nurkholis Madjid dan Abu Bakar Ba'asyir. Kedua tokoh yg berbeda paham, yitu pluralisme dan radikalisme. Knapa mereka berbda pendapt, bkankah mereka sama sama lulusan Pondok Madani Gontor, itu semua krna cra pandang mereka yg berbda walaupun mereka satu pesantren. Karena msing2 mereka akan tetap pada pendirian masing masing.

Jdi jgan takt masuk kan anak kepasantren. Mungkin takut kalau sudah besar akan menjadi teroris, atau mungkn menjadi orang yg sgat pluralitas, jgan takut. Apa yg mereka bwa tentang pemahamaman dasar Islam terutama Teuntang Tauhd . Itlah yg paling mahal.

Sabtu, 11 Desember 2010

Selamat Tahun Baru Hijriyah.

Menyambut tahun baru Islam, 1 Muharram 1432 H, menjadi momentum bagi kita semua umat Islam untuk melakukan interospeksi secara kolektif, guna melakukan perubahan dari keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik sebagai revitalisasi hijrah. Meningkatkan spritualitas dan kesadaran keagamaan menjadi keniscayaan umat Islam Indonesia, terutama ketika bangsa ini dihadapkan dengan berbagai musibah yang sepatutnya direnungkan sebagai momentum menguji kualitas keimanan dan keberislamannya dan patut direnungi untuk diambil hikmahnya.

Sebagai umat Islam, dalam menyambut Tahun Baru Islam, kita harus merefleksikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam perjalanan hijrah nabi secara kontekstual, yakni hijrah dari nilai-nilai yang buruk menuju penciptaan nilai yang lebih baik.

Tahun hijriyah ini sepatutnya umat Islam baik secara personal maupun kolektif , menjadikan hijrah sebagai momentum memasuki tahun baru untuk melakukan perbaikan dalam kehidupan sosial menuju perbaikan sistem demi kebaikan dan kemaslahatan umat yang lebih luas, merubah sistem yang tiranik, fasad dan menindas.

Untuk itu, upaya merevitalisasikan makna hijrah dapat diartikulasikan dalam kehidupan personal, keluarga, sosial kemasyarakatan dan bernegara secara sinergis. Bahkan kini saatnya bangsa ini berhijrah menuju sistem yang lebih arif dengan sistem yang demokratis guna mewujudkan kehidupan keadilan sosial bagi masyarakat luas.

Selasa, 09 November 2010

Berjuang Demi Islam

Dalam rentetan sejarah banyak kita mengenal dan mendengar tentang nama nama pengukir sejarah Islam yang berhasil menorehkan tinta emas di atas bungkahan intan permata. Yaitunya orang orang yang berjuang demi tegaknya agama Islam di muka bumi ini. Kita pun pasti tahu nama mereka bisa kita dengar, karena pengorbanannya begitu beasar bagi perjalan agama Islam di bumi ini.
Mereka rela berpisah dengan keluaraga, sanak saudara, sahabat sahabat, demi Islam. Tak hanya itu hanya mereka korbankan, harta ,tahta dan semuanya, bahkan tak tanggung tanggung mereka rela mati, demi tegaknya kalimat LA ILAHA ILLALLAH di muka bumi ini.
Prinsip hidup mereka adalah hidup mulia atau mati sebagai suhada. Kehidupan ini, dimata mereka tak obanya seperti seorang musafir yang tengah mengermbara yang pada suatu hari nanti ia akan pulang kekampung halaman, kampung yang begitu kekal dan abadi....
SelamatBerjuang untuk Islam di Sebuah sungai kehidupan

Minggu, 07 November 2010

Memberi adalah menerimah

Terdapat lebih dari 60 ayat dalam al-Qur'an yang berakar dari kata “kasaba” (artinya melakukan atau mengusahakan) dan sebagian besar di antaranya merujuk pada perhitungan balasan dari apa yang diperbuat manusia.
Dalam surat al-Zumar ayat 51, misalnya, Allah berfirman: “Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan (bimaa kasabuu). Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya. ”Ayat ini seperti memberi sinyal bahwa memberi keburukan atau perbuatan yang berakibat buruk kepada orang lain akan membuat pelakunya juga menerima balasan buruk.
Demikian pula dengan perbuatan baik. Banyak sekali ayat dalam al-Qur'an yang menunjukkan bahwa pemberi kebaikan akan menerima kebaikan, bahkan berlipat ganda dan dengan bonus luar biasa. Memberi dalam Islam disebut dengan berbagai istilah. Ada zakat, infak, sedekah, amal saleh, dan lain-lain. Pemberian yang dianggap dalam kategori itu pun beragam, mulai dari harta sampai memberi minum seekor anjing atau memberikan sesungging senyuman.
Dalam sebuah hadis misalnya disebutkan bahwa memberi senyum pun adalah sedekah. Ini artinya memberi senyum akan membuatmu menerima pahala. Pahala secara umum diartikan sebagai balasan Tuhan yang akan diterima kelak di akhirat atas kebaikan yang diperbuat di dunia. Dosa sebaliknya adalah akibat buruk yang diterima di akhirat atas perbuatan buruk di dunia. Pahala dan dosa seperti sebuah “janji” yang akan disongsong kelak.

Namun sesungguhnya tak perlu menunggu waktu kiamat untuk tahu bagaimana nikmatnya pahala ataupun sakit dan tak nyamannya siksa akibat dosa itu. Sekarang pun keduanya bisa dirasakan. Pahala dalam bentuk kepuasan batin, kebahagiaan, dan kenyamanan hati didapatkan dari memberi kebaikan; demikian juga dengan siksa, dia mengejawantah dalam bentuk kesumpekan, kegelisahan, ketidaknyamanan hati, pikiran, jiwa bahkan raga setelah melakukan perbuatan buruk terhadap orang lain.

Jumat, 22 Oktober 2010

Hidup Sederhanalah

HIDUP sederhana tidak be­rarti miskin, pelit, dan menyiksa diri. Sikap ini muncul justru dari pribadi yang kaya hati, kuat mengendalikan diri, dan peduli terhadap sesama.
Orang yang biasa hidup sederhana akan lebih jernih memandang dan membaca dunia sekitar karena melihatnya dengan hati yang lebih bening, tidak terhalang aksesori untuk memancing pujian orang. Dalam bentuk bangunan fisik, bangunan sederhana yang amat anggun dan sangat magnetis tentu saja Kakbah. Sejak dari warna, bentuk hingga isinya serba sederhana, tetapi di balik kesederhanaannya itu Kakbah menyimpan sejarah dan cita-cita sangat mulia yang diwariskan Nabi Ibrahim untuk mengajak umat manusia agar mengenali siapa dirinya.
Bahwa seluruh manusia itu pada dasarnya bersaudara.Semuanya berasal dari Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Tokoh-tokoh besar penggubah jalan sejarah dan pembangun peradaban besar umumnya hidup secara sederhana. Yang besar adalah jiwanya, menjulang tinggi cita-cita dan nalar kreatifnya. Sampai sampai soal makan, pakaian, dan tempat tinggal tidak dipikirkan kecuali sebatas menjaga kesehatan dan keamanan dirinya untuk berkarya. Tokoh yang masih mudah dikenang, di luar jajaran Nabi, adalah Mahatma Gandhi, Ayatullah Khumaini, dan Nelson Mandela.
Mereka begitu sederhana gaya hidupnya. Kita jadi prihatin dan merenung, mengapa politisi dan pejabat tinggi kita terjebak ke dalam alam pikir dan gaya hidup yang dangkal? Yang menempatkan gaya hidup konsumtif dan kekayaan materi sedemikian tingginya sehingga tidak segan-segan melakukan korupsi yang berakibat pada kehancuran martabat negara, bangsa, rakyat, dan dirinya sendiri. Sikap sederhana muncul jika seseorang lebih menghargai kualitas hidup yang lebih dalam, bukannya pada kemasan atau gaya hidup yang lebih menampakkan kulit luar saja.
Orang yang sangat mementingkan kemasan luar bisa jadi tengah mengalami krisis kepercayaan diri. Atau memang sudah dari dulu terbiasa hidup serbamewah dan glamor. Bagi seorang pemimpin sangat penting membiasakan hidup sederhana agar tidak tercipta jarak yang menganga dengan rakyat. Yang lebih penting dari hidup sederhana adalah pada perilaku dan tutur katanya. Bisa jadi seseorang melimpah kekayaannya, tetapi itu tidak membuatnya silau dan ia tidak menjadi tawanan dari kekayaannya.
Harta adalah instrumen atau pelayan yang mesti mengabdi kepada pemiliknya, jangan terbalik. Ada orang berpendapat, sebagian masyarakat kita sudah termanjakan oleh gaya hidup konsumtif dengan biaya mahal sejak masa Orde Baru. Bangunan hotel, restoran, mal, dan showroom mobil selalu bermunculan yang kemewahannya jauh mengalahkan bangunan sekolah, universitas, dan gedung kesenian.
Masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai pangsa pasar yang sangat subur bagi produk telepon genggam dan parfum produk mutakhir. Di Jakarta Selatan terdapat lebih dari 10 mal dan pusat-pusat belanja yang cukup mewah. Itu pun selalu ramai dikunjungi orang. Ketika terjadi krisis ekonomi dan lingkungan, terutama akibat banjir dan macet, keluarga kelas menengah kita sangat mudah berkeluh kesah dan hampir putus asa bagaimana mengatasinya.
Kita memang sudah begitu lama hidup dimanjakan oleh berbagai fasilitas pembangunan mewah warisan Orde Baru meskipun dari uang utang luar negeri sehingga berat kalau diturunkan gaya hidupnya. Yang berbahaya adalah jika mental ini menular kepada anak-anak kita. Pada generasi awal, yaitu generasi pejuang yang mengadu nasib merintis karier di kota besar, mereka masih memiliki ingatan atau mental database bagaimana hidup susah.
Namun generasi baru yang terlahir di masa Orde Baru yang merasa serba berkecukupan, lalu sekarang situasi memburuk, mental mereka tidak cukup kuat menghadapi kerasnya kehidupan. Mungkin faktor ini ikut mendorong untuk memilih jalan pintas tanpa memperhatikan halal haram. Lalu orang tua pun ingin melestarikan status quo pada wilayah comfort zone bagi dirinya dan keluarganya sehingga, lagi-lagi, tidak segan-segan melakukan korupsi. Sesungguhnya gaya hidup sederhana sudah dicontohkan oleh para pejuang pendiri bangsa.
Dulu pun pernah pula semasa Pak Harto muncul seruan hidup sederhana. Namun rupanya sekadar seruan, tidak terwujud dalam pelaksanaan. Di lingkungan pendidikan pun terjadi krisis pendidikan character building. Ambisi untuk lulus ujian nasional menjadi agenda utama setiap sekolah dengan mengurangi perhatian pada pengembangan bakat dan pendidikan karakter.
Padahal, sebuah bangsa akan bangkit dan maju kalau pemerintah dan masyarakatnya kompak berani hidup sederhana, lalu diikat oleh semangat dan cita-cita untuk membangun kebanggaan sebagai sebuah bangsa dan negara sebagaimana yang dicontohkan oleh peristiwa historis Sumpah Pemuda 1928. Dari sisi materi, mereka sederhana hidupnya, tetapi sangat kaya dengan imajinasi, cita-cita mulia, dan altruistis, yaitu perasaan bahagia dan bermakna hidupnya dengan banyak memberi, bukannya mengambil atau menerima belas kasih orang.(

Rabu, 20 Oktober 2010

Kuansing Juaraa IV Umum Mtq Riau 2010

Usai sudah pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Riau yang diadakan di Kabupaten Kuantan Singingi. Perhelatan besar tersebut telah meninggalkan banyak kesan bagi seluruh Kabupaten / Kota yang mengikuti MTQ tingkat Provinsi Riau yang ke XXIX. Tentunya tidak terkecuali untuk tuan rumah.

Kabupaten Kuantan Singingi.Pada pelaksaanaan MTQ tahun ini  meperoleh peringkat umum IV terbaik sepanjang sejarah Kuansing terpisah dari Kabupaten Indragiri Hulu. Walaupun Kuansing tak mampu menjadi juara umum satu di tanah kelahirannya. Tapi Kafilah Kuansing telah mampu memposisikan dirinya sebagi perngkat ke IV, Yang mana pada tahun lalu Kafilah Kabupaten Kuansing hanya mampu pada urutyan ke VIII.

Kabupaten Kampar akhirnya keluar sebagai juara umum MTQ Provinsi Riau XXIX 2010 di Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi 10-17 Oktober. Kepastian Negeri Serambi Mekkan ini diumumkan pada penutupan MTQ Riau 2010 di Stadion Sport centre Kuansing di Kelurahan Sungai Jering, Teluk Kuantan.
Berdasarkan pengumuman dewan hakim yang disampaikan ketua dewan hakim H Emrizal Pakis, Kampar mengumpulkan poin tertinggi dengan jumlah poin 68. Juara II disusul oleh Kafilah Pekanbaru yang mengoleksi 67 poin. Kemudian Juara II ditempati oleh  Kabupaten Rohil dengan total poin 59 poin.

Sementara itu tuan rumah MTQ 2010 Kabupaten Kuantan berhasil memperbaiki peringkatnya dari peringkat ketujuh pada MTQ 2009 lalu menjadi peringkat IV dengan koleksi 32 poin dan peringkat ke V Kabupaten Siak.
Pada acara penutupan ini juga disampaikan juara stan pameran dan bazar produk unggulan daerah dalam rangka MTQ Riau 2010 serta juara pawai pembukaan MTQ 2010. Untuk pawai dan bazar  Juara Umum I   direbut Kota Pekanbaru dengan Nilai 765. Begitu juga dengan pawai taaruf Pekanbaru juga tampil sebagai juara dengan poin 978.

Penutupan MTQ Riau 2010 berlangsung penuh himat dan cukup meriah. Rangkaian acara penutupan dimulai dengan tari persembahan dan defile kafilah MTQ Riau 2010, pembacaan ayat suci   Alquran oleh qoriah terbaik cabang tilawah dewasa putri MTQ Riau 2010 Novrianti dari Kuansing.
Puluhan ribu masyarakat turut meramaikan upara penutupan yang ditutup oleh Sekretaris Daerah Provinsi Riau H Wan Syamsir Yus dengan ditandai dengan penekanan sirine.
Turut hadir pada acara penutupan ini pimpinan dan anggota DPRD Riau, Muspida Riau, Bupati Kuansing H Sukarmis, Wakil Bupati Kuansing H Mursini, Selda Kuansing H Zulkifli yang juga ketua umum MTQ Riau 2010, Bupati dan walikota se-Riau beserta istri dan yang mewakili, Wakil Bupati/walikota se-Riau
dan istri, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Riau H Asyari Nur, pimpinan dan anggota DPRD kabupaten/kota se-Riau, unsur Muspida Kabupaten/kota se-Riau, Sekdakab, Ketua dna pengurus Riaudan LPTQ kabupaten/kota se-Riau, Ketua Umum MUI Riau, dewan hakim dan majelis hakim MTQ -29, tokoh agama, tokoh  masyarakat, tokoh pemuda serta kafilah kabupaten/kota.

Gubri dalam amanatnya yang disampaikan Wan Syamsir Yus mengatakan, apapun hasil dari pelaksanaan MTQ Riau ini hendaknya disambut dengan gembira dan diterima oleh semua kalangan. Jika ada kekurangan hendaknya diperbaiki pada penyelenggaraan MTQ selanuutnya.
"Semua kafilah hendaknya pulang ke daerah tanpa membawa hal-hal yang dianggap masalah," ujar Gubri.
Sementara itu Bupati Kuansing H Sukarmis dalam sambutannya menyampaikan dengan penyelenggaraan MTQ hendaknya diambil hikmah dan nilai tambah serta mampu memberikan  penghayatan dan pengalaman nilai Alquran dan membentuk manusia beriman dan bertaqwa. Sehingga penyelnggaran MTQ yang diadakan rutinintas bisa bangun generasi Qurani.
Pada kesempatan itu, Sukarmis mengucapkan Selamat kepada seluruh pemenang lomba dan harap prestasi ditingkatkan. "Perserta yang belum berhasil jangan patah semangat karena banyak esempatan.
Pemkab mengucapkan terimakasih kepada Gubernur Riau, Bupati dan walikota se Riau, dan LPTQ serta seluruh kafilah yang bantu penyelenggaran MTQ Riau ke-29. Pemkab dan masyarakat mohon maaf ataskelalaian dan kekurangan atas penyelenggaraan MTQ XXIX," ungkap Sukarmis.

LPTQ Riau Puji Kuansing
Sementara itu Ketua Umum LPTQ Riau DR Suryan Jamran menilai tuan rumah MTQ 2010 Kuansing layak dicontoh oleh kabupaten kota lain di Riau yang akan menjadi pelaksana MTQ berikutnya.
"Bukan  maksud berbasa basi memuji dan mengambil hati. Ini adalah bukti bahwa Kuansing panitia pelaksana MTQ yang paling layak di contoh. Kabupaten manapun yang jadi pelaksana MTQ seyogyanya datang dan beguru ke di Kuansing  baik sistem akomodasi, konsumsi, dan pengaturan sarana prasana cabang lomba," ungkap Suryan.
Dalam pengarahannya Suryan menyoroti masih adanya permasalahan yang dilakukan oleh kafilah kabupaten kota yang menggunakan kafilah dari luar daerah provinsi Riau. Ia mengharapkan agar kedepan kabupaten kota dapat memberdayakan kafilah daerah.

Sementara itu, Ketua umum Panitia MTQ Riau 2010, H Zulkifli menyampaikan, MTQ Riau di Kuansing diikuti 12 kabupaten kota dengan rincian peserta masing-masing kabupaten kota  Pekanbaru mengirimkan 41 peserta , Kampar 42 orang, Inhil 42, Inhu 36, Kuansing 37, Pelalawan 30 orang, Rohil 42, Rohul 37, Siak 35 orang, Bengkalis 37 orang, Dumai 23 orang dan Kabupaten Kepualuan Meranti 29 orang.

Atas nama panitia MTQ kata Sekda Kuansing tersebut, panitia mohon maaf kepada seluruh peserta jika terjadi kekurangan.hir

Rabu, 13 Oktober 2010

Dampak Mtq Provinsi Riau Bagi Masyarakat

Musyabakah Tilawatil Quran (MTQ) yang baru saja dibuka oleh Gubernur Riau H. M Rusli Zainal SE MP tingkat Provinsi Riau yang pada tahun 2010 ini yang menjadi tuan rumah adalah Kabupaten Kuantan Singingi. Kabupaten yang baru saja merayakan hari jadinya yang ke-11 tepatnya tanggal 12 Oktober kemaran .Perhelatan besar ini akan berlangsung pada tanggal 10 s/d 17 Oktober tahun ini.
Adakah dampak perhelatan besar yang pertama kali diadakan di Kota Jalur Teluk Kuantan ini terhadap masyakat luas. Tentunya ada. Kita mungkin tahu dan juga mungkin merasakannya, Di sebagian daerah di Kuansung adanya pemadaman listrik bergilir, ini adalah salah satu bukti dan juga sebagai tanda ketidaksiapan Pemetintah Kuansing dalam menyelenggarakan MTQ tingkat Provinsi ini
Sebenarnya kita merasa bangga terhadap iven ini, iven ini begitu besar, . Sehingga menelan biaya milyaran rupia, Kabarnya pada malam pembukaannya saja menghabiskan biaya tidak kurang dari Rp 200.000.000 .
Pertanyaanya apa yang rakyat dapat dari MTQ ini. Banyak spanduk yang bertebaran pada MTQ ini yang satu spanduk menghabiskan dana Rp 100.000 hingga 150.000 , itu hanya satu spanduk. kayak tidak kurang dari 200 spanduk.
Jadi yang kaya makin kaya yang miskin makin miskain

Rabu, 06 Oktober 2010

Pacaran Menurut Pandangan Islam


Manusia diciptakan oleh Allah ta'ala dengan membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya. sebagaimana firmanNya : "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali-Imran : 14).
            Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah ta'ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di surga dengan bidadarinya. Tapi nampaknya fitrah yang diberikan Allah SWT kepada manusia seringkali dikotori dengan perbuatan yang hina dan mengjinakan.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang shalihah." (HR. Muslim). Di dunia yang semakin modern dan peradapan yang makin canggih ini, sangat sulit sekali dijumpai wanita yang menjadi perhiasan dunia itu.
            Bagi para remaja masa – masa muda tentu merupakan masa yang menyenangkan, masa yang paling indah dalam hidup, di mana pada masa inilah terjadi peralihan dari anak-anak menjadi dewasa, dari belum baligh menjadi baligh, dari bebas tanggung jawab menjadi bertanggung jawab. Salah satu hal yang seringkali muncul pada masa ini adalah rasa suka (cinta) kepada lawan jenis. Dalam banyak hal rasa ini sering terwujud dengan adanya pacaran, jadian, atau apalah namanya.
            .Biasanya pacaran juga melalui suatu proses, mulai dari perkenalan, tukar nomor HP, berlanjut pada smsan nelpon nelponan, ketemuan, lama kelamaan bersemailah benih cinta. Yang kemudian benih cinta itu berubah menjadi rasa cinta, serta diiringi keinginan untuk memilikinya. Pada suatu waktu yang telah ditentukan, mereka saling mengungkapkan perasaan, yang kemudian berbahalah status mereka menjadi pacaran. Adakah status ini dalam ajaran Islam.
            Lalu bagaimana Islam memandang fenomena ini. Islam tiding mengenal yang namanya pacarn, paracaran merupakan kultur barat yang sudah menjadi kebiasaan di tengah tengah masyarakat kita. Pacaran akn hanya membawa dampak negative bagi setiap insane yang menjalaninya. Mengapa demikian? Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).
            Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lawan jenis. Tapi kebanyakan orng tua malah mengizinkan anak anak pacaran, tapi tidak ada pengawasan yang pasti dari orang tua. Seharusnya setiap orang tua harus memperhatikan apa yang anaknya perbuat, termasuk urusan pacaran ini. Sebenarnya apa sih untung pacaran, tidak lain tidak bukan hanya akan menghabiskan waktu, tenaga, uang dan sebagainya. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan. Karena menikah ada jalan terbaik bagi dua insane yang saling menyayangi dan mencintai.. Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.
            Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari ). Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.
            Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.
            Dalam Al Qur`an sangat jelas sekali Allah SWT mengingatkan kita supaya tidak mendekati yang namanya zina, suatu perbuatan yang sangat dibenci bahkan termasuk dosa besar apabila kita melakukan perbuatan itu. Jangankan untuk melakukannya mendekatinya saja dilarang oleh Islam, seperti dijelasakn dalam firman-Nya berikut ini
“Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan, karena zina itu adalah perbuatan yang keji…(QS. Al-Isra : 32). Pacaran adalah awal untuk mendekati perbuatan zina tersebut. Ingatlah Zina bukan hanya satu, tetapi ada yang namanya zina mata, hati, mulut, telinga. Mustahillah orang yang berpacaran tidak melakukan zina yang empata itu, bahkan mungkin melakukan zina, dengan kategori melakukan hubungan badan seperti hal suami istri.
           
Islam tidak membiarkan umatnya menjalani hidup ini tanpa adanya aturan, islam telah mengatur etika atau abad dengan lawan jenis di antaranya sebagai berikut:
            Pertama, menundukan pandangan terhadap lawan jenis, di sini bukan berarti kita tidak menoleh atau membelakangi lawan jenis kita, apalagi saat berbicara, bahkan perbuatan itu termasuk kuarang sopan, tetapi kita harus menjaga pandangan. Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan pandangannya, sebagaimana firmanNya : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nur : 30). Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nur : 31).
Kedua, tidak berdua-duaan dengan lawan jenis. Dari Ibnu Abbas RA berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda; "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (Khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya." (HR. Bukhari Muslim). Dari Jabir bin Samurah berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena syetan akan menjadi yang ketiganya” (HR Ahmad)
Ketiga, tidak menyentuh lawan jenis. Dari Ma'qil bin Yasar RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabrani) Sangatlah hina seorang laki laki memegang tangan perempuan yang dijadikannya sebagai pacar, kalau kita lihat pada zaman sekarang bukan hanya pengangan tangan, tapi ciuman, pelukan, sudah menjadi hal yang biasa di kalangan muda mudi saat ini. Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah : "Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya."
            Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan perempuan selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya." (HR. Bukhari  Muslim Abu Dawud).
            Setelah kita melihat fenomena di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran tidak diperbolehkan daam Islam, mengapa demikian, karena orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya, orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah, pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.
Di dalam pacaran hal hal di atas tentunya tidak bisa di hindarkan. Jadi marilah kita ubah paradigma kita tentang pacaran ini, pacaran juga akan menjadi virus yang ganas lagi mematikan bagi para kaulamuda, oleh karena itu marilah kita berpikir jernih, untuk menghilangkan atatupun setidaknya mengurangi fenomena pacaran ini , salah satu caranya, jangan kita termasuk di dalamnya.

Rendi Ahmad Asori
Siswa kls XII IA 2 MAN Teluk Kuantan
Alumni MTs Babussalam Simandolak, Benai


Rabu, 29 September 2010

Mukjizat al-Quran membuat seorang ilmuwan Amerika masuk Islam

Mukjizat al-Quran membuat seorang ilmuwan Amerika masuk Islam
Ketika lafad Allah terdengar, getaran di atas suara berubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditangkap oleh monitor. Mukjizat ini membuat seorang ilmuwan terkenal Amerika memilih masuk Islam.
Dilaporkan bahwa sebuah tim ilmuwan dari Amerika menemukan bahwa sebagian dari tumbuh-tumbuhan khatulistiwa mengeluarkan frekuensi di atas suara. Dan  itu hanya dapat ditangkap oleh perangkat canggih.
Para ilmuwan ini selama tiga tahun melakukan penelitian dan melihat fenomena seperti ini membuat mereka sangat terheran-heran. Mereka menemukan bahwa getaran di atas suara ini dapat diubah menjadi gelombang elektrik optik dan lebih dari seratus kali persekon berulang-ulang.
Tim ini kemudian membuktikan penemuan mereka di hadapan sebuah tim peneliti Inggris. Kebetulan dalam tim itu ada seorang yang beragama Islam. Ia keturunan India.
Setelah melakukan uji coba selama lima hari, ilmuwan Inggris juga menjadi terkagum-kagum dengan apa yang mereka lihat. Namun, ilmuwan muslim ini mengatakan bahwa hal ini sudah diyakini oleh kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Mereka yang mendengar ucapan itu memintanya untuk lebih jauh menjelaskan masalah yang disebutnya. Ia kemudian membaca ayat yang berbunyi: “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji- Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Isra’: 44).
Prof. William Brown, pimpinan tim peneliti itu akhirnya mengajak ilmuwan Islam itu untuk berbicara lebih banyak tentang Islam. Setelah dijelaskan tentang Islam dan diberi hadiah sebuah all-Quran yang dilengkapi dengan tafsirnya dalam bahasa Inggris, ia kemudian mengucapkan syahadat.
Dikutip dari: http://infosyiah.wordpress.com/2007/03/24/mukjizat-al-quran-membuat-seorang-ilmuwan-amerika-masuk-islam/

Mengaku Salah itu Terhormat

ADA tradisi yang berbeda antara dunia akademisi dan politisi. Bagi seorang ilmuwan, mengaku salah dan tidak tahu merupakan hal biasa, tidak akan menjatuhkan martabatnya sebagai ilmuwan.To err is human, kata orang Inggris.

Berbuat salah itu manusiawi selama tidak disengaja dan ada penyesalan untuk memperbaikinya. Terlebih seorang ilmuwan, dirinya sangat sadar apa yang diketahui itu hanya sebatas bidang ilmu yangdipelajarinya dan itu pun selalu merasa ketinggalan oleh perkembangan ilmu yang demikian dinamis.
Saya sendiri merasa, kedalaman dan keluasan ilmu yang pernah saya pelajari sudah ketinggalan dibanding pengetahuan yang dimiliki para yunior saya yang baru selesai menyelesaikan doktornya dalam bidang yang sama. Sadar bahwa cakupan ilmu itu begitu luas,maka ketika ada mahasiswa bertanya dan dosen merespons, ”Maaf saya belum bisa menjawab. Semoga minggu atau bulan depan saya sudah mendapatkan jawabannya,” hal itu biasa saja. Bahkan, mahasiswa akan menghargai kejujuran dosennya.
Pertanyaannya, berlakukah sikap demikian di kalangan politisi dan aparat pemerintah? Rasanya tidak. Seakan mereka tidak mengenal kata dan tindakan salah. Politisi selalu berusaha membangun citra bahwa dirinya serbatahu, serbabenar, dan rakyat yang mesti memahami mereka, bukan sebaliknya. Sampai-sampai ada ungkapan, politisi itu pantang salah, dan kalau pun berbuat salah, mesti dikemas dan ditutup dengan cara sedemikian rupa,kalau perlu bohong, agar rakyat tidak tahu bahwa dirinya salah.
Jadi, di sini sangat berbeda dari tradisi ilmuwan yang justru mengharap kritik atas pendapat yang dilontarkannya. Ilmuwan mencari kebenaran. Sedangkan politisi mencari popularitas, jabatan, dan kemenangan, sekalipun dengan penuh tipu daya. Karena kecenderungan kultur semacam itu, maka tidak sedikit para ilmuwan dan ulama yang masuk dunia politik lalu berubah karakternya.
Tujuan semula masuk ke politik untuk memperbaiki keadaan, namun lama-lama kritiknya tumpul, dan seterusnya lebur ke dalam komunitas dan kultur yang semula mereka kritik dan kecam. Sejelek itukah dunia politik kita? Serapuh itukah mental para ulama dan akademisi yang sudah bergabung ke dunia politik? Untuk mencari jawabannya, riset atau tanyakan saja pada mereka, baik yang sekarang berkantor di Senayan atau di jajaran pejabat tinggi negara.
Saya sendiri sering kali mendapat cerita dan pengakuan mantan politisi dan pejabat tinggi negara sambil bermain golf.Mereka buka sendiri kebohongan dan kecurangan yang pernah dilakukan sebelum pensiun. Mereka menyesali dan menertawakan dirinya sendiri namun semuanya telah berlalu. Sebagai orang awam,saya melihat betapa banyak di negeri ini pemain akrobat dan pesulap politik.
Kita semua tahu,Munir telah mati terbunuh, tetapi siapa pelakunya tidak jelas.Sekian banyak mahasiswa dinyatakan hilang, sampai sekarang tidak diketahui siapa yang menghilangkan. Korupsi mewabah, namun koruptornya tidak terpegang. Dan akhir-akhir ini kita semua disuguhi tontonan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century. Apa pendapat Anda? Anggota DPR telah berakting layaknya interogator dan hakim sehingga para saksi yang hendak digali informasinya bagaikan seorang pesakitan.
Di sisi lain, para pejabat negara yang diberi mandat dan amanat untuk mengendalikan jalannya administrasi pemerintahan, semuanya berusaha meyakinkan kita semua bahwa mereka tidak salah. Tak ada yang salah, tak ada yang mengambil sikap: “Maaf saya telah membuat kesalahan, meski tidak saya sengaja.Semua itu saya lakukan semata untuk melindungi kepentingan rakyat. Maafkan kesalahan saya dan tegakkan hukum, jangan pilih kasih, siapa pun yang salah mesti diproses,termasuk diri saya.”
Sebagai umat beragama saya merenung, ketika berdoa di hadapan Allah kita membuka diri selebar-lebarnya, mengakui dosa dan kesalahan kita.Tetapi, mengapa sikap demikian tidak muncul dalam ranah sosial? Apa yang hilang kalau seseorang mengakui salah dan minta maaf? Apakah sukses hidup mesti diukur dengan kursi jabatan, sekalipun mesti diraih dan dijaga dengan kebohongan? Bangsa ini akan maju kalau politisi dan pemerintah mampu membuat terobosan ke depan.
Salah satunya adalah menciptakan budaya bersih dan jujur, lalu bekerja cerdas dan keras untuk menyejahterakan rakyat.Kalau ini dilakukan, rakyat pasti akan bangkit dan mendukung pemerintah sehingga pada urutannya martabat bangsa juga akan terdongkrak.
Yang berlangsung selama ini pemerintah tampak gamang dan tidak memiliki visi serta program yang mampu mengikat koalisi gagasan dan koalisi cinta Indonesia dari semua komponen bangsa.Yang lebih diperhatikan hanyalah koalisi partai yang usianya masih muda dan kepentingannya pun diduga jangka pendek. Kalau esai ini banyak kelemahannya, izinkan saya minta maaf.

Ditulis oleh: prof Dr Komarudin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dikutip dari:

 Oleh: http://www.uinjkt.ac.id/index.php/category-table/1257-mengaku-salah-itu-terhormat.html
PUTRA SIMANDOLAK YANG BERCITA-CITA MASUK SURGA